Suku Bunga Dalam Negeri Cenderung Naik Terus, Pelaku Usaha Beramai – Ramai Berhutang Keluar Negeri

The Fed Kerek Naik Suku Bunga, Kapan BI akan Mengikutinya?

Berita bisnis, Ekonomi, dan saham hari ini – Menurut Institute for Development of Economics and Finance (Indef), tren tingginya suku bunga secara global mendorong para pelaku usaha untuk melakukan pinjaman ke luar negeri, karena ada potensi kenaikan suku bunga di dalam negeri. Fenomena itu pun dikarenakan risiko melemahnya rupiah.

Untuk informasi lebih lengkapnya, berikut fakta – fakta menarik terkait pinjaman luar negeri korporasi yang marak lagi :

  • Utang Luar Negeri Tumbuh 0,03 Persen Per April 2022

Utang luar negeri korporasi per April 2022 tercatat mencapai US$210,2 miliar atau tumbuh sekitar 0,03 persen (year-on-year/YoY). Jumlah utang tersebut naik dari posisi Maret 2022 yang sempat terkontraksi 1,6 persen (YoY).

Meningkatnya jumlah utang luar negeri tersebut berasal dari perusahaan bukan lembaga keuangan (non financial corporations) yang tumbuh 0,5 persen (YoY). Jumlah tersebut pun berbalik positif dari Maret 2022 yang terkontraksi 0,7 persen (YoY).

  • Utang Luar Negeri Bisa Menjadi Alternatif Yang Sangat Menarik

Direktur Eksekutif Indef, Tauhid Ahmad, mengungkapkan bahwa perusahaan bukan lembaga keuangan seperti yang bergerak di sektor riil sempat terhambat usahanya akibat pandemi virus corona. Namun saat ini setelah terjadi pemulihan ekonomi, perusahaan – perusahaan tersebut kembali mencari modal untuk meningkatkan usahanya.

Namun, meski kini terjadi kenaikan inflasi dan gonjang – ganjing perekonomian global, Tauhid menilai utang luar negeri bisa menjadi alternatif sangat menarik. Menurutnya, setidaknya terdapat tiga alasan yang mendasari hal itu.

  • Tingkat Suku Bunga Di Luar Lebih Rendah

Alasan pertama bisa jadi perusahaan – perusahaan tersebut tertarik meminjam ke luar negeri karena tingkat suku bunganya yang lebih rendah.

  • Tingkat Suku Bunga Dalam Negeri Cenderung Naik

Alasan kedua karena suku bunga dalam negeri cenderung akan naik sebagai respons atas kondisi inflasi. Menurut Tauhid, momentum tersebut akan dimanfaatkan oleh para pelaku usaha untuk meminjam ke luar negeri.

  • Menghindari Depresiasi Nilai Tukar

Dan alasan ketiga yaitu karena para pelaku usaha ingin menghindari risiko lebih tinggi jika mengajukan pinjaman dari dalam negeri, yaitu depresiasi nilai tukar. Menurutnya, dalam beberapa bulan terakhir terjadi depresiasi didalam negeri dan berpotensi masih akan berlanjut.

  • Utang Luar Negeri Indonesia US$409,5 Miliar Pada Akhir April 2022

Berdasarkan laporan Bank Indonesia (BI), posisi utang luar negeri Indonesia mencapai US$409,5 miliar pada akhir 2022. Posisi tersebut turun jika dibandingkan dengan posisi pada Maret 2022 yang mencapai US$412,1 miliar.

Kepala Departemen Komunikasi BI, Erwin Haryono mengungkapkan bahwa penyebab utama perkembangan tersebut adalah karena terjadinya penurunan posisi utang luar negeri dari sektor publik, yaitu pemerintah dan Bank Sentral.

Posisi utang luar negeri pemerintah tercatat mencapai US$ 190,5 miliar per April 2022. Posisi tersebut turun jika dibandingkan dengan posisi utang luar negeri pada Maret 2022 yang mencapai US$196,2 miliar.

Sementara secara tahunan, pertumbuhan utang luar negeri pemerintah mengalami kontraksi sebesar 7,3 persen (YoY), lebih dalam jika dibandingkan dengan kontraksi pada Maret 2022 yang mencapai 3,4 persen (YoY).

Menurut Erwin, menurunnya posisi utang luar negeri pemerintah terjadi karena beberapa seri Surat Berharga Negara (SBN) yang jatuh tempo pada April 2022 dan bergesernya penempatan dana oleh investor non residen sejalan dengan ketidakpastian yang masih tinggi di pasar keuangan global.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *